Manfaat bergabung dalam jaringan Indonesia-furniture.com :
Web-Hosting + Promosi khusus untuk Product Furniture dari Indonesia
Q: Apakah Indonesia-Furniture.com (selanjutnya disingkat I-F) itu ?
A: I-F adalah suatu portal yang dikhususkan untuk para pengusaha furniture dari Indonesia untuk membuat, menampilkan dan mempromosikan website mereka keluar negeri, sehingga akan mendapatkan buyers/importers dengan segment yang sesuai dengan yang dijual.
Q: Apakah yang mampu diberikan oleh I-F ?
A: I-F mampu menyediakan jasa dalam pengelolaan suatu website, meliputi :
- pendaftaran domain
- pembuatan design
- penyediaan web-hosting
- maintenance server
- konsultasi
- dan hal yang penting : promosi!
Q: Bagaimana cara bergabung kedalam jaringan I-F?
A: Cukup dengan menjadi member dengan biaya mulai Rp. 1.500.000,-/th
Q: Bagi yang sudah mempunyai website, apa yang diberikan oleh I-F ?
A: Indonesia-Furniture.com menawarkan paket khusus promosi dengan biaya yang sangat ringan namun dengan hasil yang sangat menjanjikan Fasilitas yang ditawarkan dalam Paket Khusus ini adalah :
1. Dipromosikannya banner website anda di www.indonesia-furniture.com
2. Website anda didaftarkan ke 100 search engine utama
3. Ditampilkan dibeberapa portal-portal unggulan lainnya
I-F mempunyai server dedicated sendiri yang terlletak di USA, jika member sudah mempunyai website sendiri, boleh memindahkan server mereka dengan gratis diserver kami. Kami akan memberikan fasilitas upgrade space dengan gratis.
Q: Bagi yang belum mempunyai website, apa yang diberikan oleh I-F ?
A: Bagi yang belum mempunyai website , akan mendapat gratis :
- Domain (.com) dng pilihan nama sendiri
- Hosting kapasitas 100mb, dng letak server di USA untuk jaminan kecepatan diakses dari seluruh dunia.
- Bantuan web-design standart
- konsultasi design
- bantuan maintenance website
- Dipromosikannya banner website anda di www.indonesia-furniture.com
- Website anda didaftarkan ke 100 search engine utama
- Ditampilkan dibeberapa portal-portal unggulan lainnya
Q: Kapan berdirinya I-F?
A: I-F sendiri sudah berdiri sejak th 1999. Portal ini mempunyai keunikan tersendiri bahwa bertujuan hanya untuk mempromosikan website para members yang bergabung didalamnya. Website ini setiap bulan dikunjungi puluhan ribu pengunjung, yang mayoritas adalah pengusaha furniture dari luar negeri yang mencari produk furniture dari Indonesia.
Portal ini didirikan berdasarkan pengalaman para pemilik website furniture, setelah mereka mempunyai website ternyata kunjungan dari luar negeri dan email-email tidak kunjung tiba, ini sebenarnya logis, sebab diseluruh dunia terdapat ribuan website furniture sejenis (dari china, malaysia,vietnam,dll) yang semuanya bertujuan sama : mencari importer dari USA, Eropa, Timur Tengah, Jepang dan Australia. Para pemilik website ini pada umumnya tidak memahami bahwa setelah mempunyai website maka ada satu hal lagi yang harus dilakukan mereka : mempromosikan website mereka agar dikenal dan dikunjungi, sebab website tanpa promosi adalah sia-sia. Bersaing dengan ribuan website sejenis tidaklah mudah bahkan bisa dianggap sulit sekali. Berdasarkan hal inilah Indonesia-Furniture.com didirikan khusus untuk mempromosikan website furniture Indonesia agar website mereka di kenal dan dikunjungi oleh importer furniture dari seluruh dunia.
Q: Apakah I-F akan menjamin promosi pasti berjalan efektif?
A: Sudah lebih dari 6 tahun Portal ini berdiri dan sampai saat ini sudah mempunyai member lebih dari 100 perusahaan furniture dari seluruh Indonesia. Ini membuktikan bahwa Portal ini memang mempunyai 'taring' untuk mempromosikan website furniture Indonesia. Jika anda bergerak di bidang furniture jangan lewatkan kesempatan ini, jika anda mempunyai kenalan yang bergerak dibidang furniture silahkan diinformasikan ke mereka
Q: Saya dengar I-F.com juga mempunyai portal furniture yang lain?
A: Ya, I-F.com mempunyai beberapa portal furniture lagi, yang mana anda sebagai member berkesempatan untuk dipromosikan juga disini.
Portal-portal ini diantaranya :
http://www.eastjava.com/furniture
http://www.indonesia-product.com
http://www.mid-java.com
http://www.bali-online.com
http://www.thefurnitures.com
Dan ada beberapa lagi yang masih dalam tahap pengembangan
Q: Apakah bisa melihat data asal pengunjung dari member yang sudah bergabung ?
A: Silahkan kunjungi link dibawah untuk melihat statistik pengunjung dari I-F & member yang sudah bergabung :
Indonesia-Furniture.com :
1. Statistik Pengunjung ke Indonesia-furniture.com (Asal Negara)
2. Statistik Pengunjung per harinya ke Indonesia-Furniture.com
Salah satu member Indonesia-Furniture.com :
3. Statistik asal negara pengunjung
4. Statistik dari portal mana saja asal pengunjung member i-f.com
5. Dari mana asal 20 pengunjung terakhir ke website member i-f.com
Q: Bagaimana cara menghubungi I-F?
A: Informasi lanjut hubungi :
www.Indonesia-Furniture.com
email : nurul@indonesia-furniture.com
contact : 081-331-030303
Alam semesesta adalah sumber kehidupan. Alangkah indahnya bilamana daun-daun pepohonan berwarana biru.
Minggu, 21 September 2008
ರೆಕ್ರೆಅಶನ್ ಇನ್ Pulau Bidadari
Pulau Bidadari
Pagi itu panas matahari belum begitu terik, namun kesibukan di Dermaga 17 Pantai Marina Ancol sudah terlihat. Antrean orang yang akan naik kapal cepat ke berbagai pulau di gugusan Pulau Seribu sudah mulai bersiap-siap naik ke perahu masing-masing. Pak Nur ( 41 ), Kapten kapal cepat yang akan menuju P.Bidadari juga terlihat berdiri diatas kapal untuk melihat kesiapan kapal yang akan dikemudikannya.
Jika ingin pergi ke berbagai gugusan Kepulauan Seribu gampang saja, datang saja ke Pantai Marina Ancol. Di situ anda tinggal beli tiket kapal, kemudian memilih tujuan, menunggu sebentar dan berangkat. Salah satu service yang disediakan adalah berlayar menuju Pulau Bidadari, salah satu gugusan Kepulauan Seribu yang terdekat dengan Jakarta. Rute Marina – P.Bidadari tersedia tiap hari, dimana keberangkatan kapal jam sembilan pagi dan kepulangannya jam tiga sore.
Kalau hari libur atau Sabtu & Minggu kapal tetap berangkat jam sembilan pagi, namun jam kepulangan menjadi dua kali, jam dua dan jam empat sore. Harga tiket juga berbeda, hari biasa adalah Rp 160,000 ,- per orang sedangkan hari libur adalah Rp 200,000 / orang. Selain tiket pulang dan pergi, harga tiket tersebut termasuk welcome drink dan makan siang di restoran P.Bidadari.
Setelah menunggu beberapa saat di Dermaga 17 Pantai Marina Ancol, petugas kapal mempersilahkan penumpang untuk masuk. Sesaat kemudian kapal yang kami tumpangi berputar, maju pelan-pelan dan mulai membelah lautan. Makin lama kecepatan kapal makin betambah, hingga para penumpang yang berada di dalamnya terasa diayun-ayun dan digoyang-goyang. Walaupun begitu para penumang tetap berasa aman di dalamnya, karena kapalnya lumayan besar dan tertutup, sehingga cipratan air tidak masuk ke dalam. Ruangan kapal juga relatif bersih dan nyaman. Susunan tempat duduknya juga asyik, kursi busa dengan posisi tiga kursi samping kanan dan tiga kursi samping kiri yang dipisahkan oleh jalan di tengahnya. Tak begitu lama, kurang lebih hanya dua puluh menit di atas kapal, rimbunan dedaunan Pulau Bidadari sudah kelihatan, dan merapalah kapal yang kami tumpangi di dermaga kayu pulau tersebut.
Patung Sang Tanduk Tujuh Belas yang sedang mengangkat kakinya menyambut kedatangan para pengunjung. Bahkan sambutan tersebut disertai dengan bunyi puisi yang tertulis di bawah patung yang berbunyi sebagai berikut,”Singa Beraung dihutan-hutan, Hiu berteriak, Aku raja dilautan, Dan rajawali, Bebas terbang tinggi di awan – Disini Sang Tanduk Tujuh Belas, Akrab berbisik, Kepada para wisatawan, Saya hanyalah penjaga kepulauan – Cinta persahabatan, Cinta perdamaian, Cinta ketenangan, Dan cinta keindahan”. Merenung sejenak setelah membaca pusisi tersebut, welcome drink pun siap sedia diatas meja yang terletak di samping meja resepsionis. Di pintu masuk terdapat beberapa petugas yang sudah siap sedia melayani segala keperluan para pengunjung. Pemandu wisata juga tersedia bagi para pengunjung yang ingin penjelasan detail tentang P.Bidadari.
Karena ingin lebih bebas menikmati asrinya pulau, kami pun memutuskan untuk mengelilingi Pulau Bidadari tanpa menggunakan pemandu. Toh sudah tersedia juga brosur yang lumayan lengkap yang berisi tentang pulau ini. Mengitari pulau berlawanan arah dengan jarum jam, kami melintasi bungalow-bungalow yang tidak begitu besar, namun terlihat teduh dan asri. Karena hampir di setiap sudut daratan pulau ini tumbuh pohon Keben dan beberapa pohon lain yang terlihat sangat subur. Terus berjalan ke dalam kita akan menemukan Benteng yng sudah rusak, namun masih terlihat sisa-sisa keperkasaannya. Bangunan yang berfungsi sebagai menara pengawas dan benteng di Pulau Bidadari ini berbentuk bundar dengan garis tengah 23 meter da tebal dinding 2,50 meter. Pada dinding ini terdapat deretan jendela-jendela besar dan kecil. Pada bagian dalam bangunan ini terdapat tujuh ruangan lantai dasar yang dipisah-pisahkan dengan skat tembok bata.
Salah satu ruangan yag tertutup berfungsi sebagai tempat penyimpanan amunisi. Pada bagian tengahnya terdapat sebuah dinding lingkaran lagi yang berfungsi sebagai tempat penyimpanan air bersih untuk keperluan minum dan memasak bagi para tentara yang sedang berjaga. Sebelum dilakukan penggalian arkeologi, bangunan menara pengawas di Pulau Bidadari ini tidak terlihat wujudnya sebab seluruh permukaan bangunan tertimbun oleh puing-puing dan ditumbuhi oleh pohon-pohon besar serta ilalang. Namu setelah dilakukan penelitian dan penggalian oleh Dinas Museum dan Sejarah DKI Jakarta, akhirnya dapat diperlihatkan wujud dari sisa-sisa bangunan menara tersebut. Menara pengawas ini bertingkat dua, hal ini dibuktikan dengan adanya lubang-lubang penyangga balok lantai. Ruangan-ruangan pada lantai dua ada tujuh buah. Kemungkinan ruangan dilantai dua ini berfungsi sebagai ruangan tidur sekaligus tempat pengintaian.
Bentuk bangunan menara pengawas ini di Eropa lebih dikenal dengan sebutan Menara Martello. Yang pertama kali diperkenalkan oleh Perancis, atau tepatnya d pulau Corsica pada abad 18. Ketika terjadi pemberontakan di pulau tersebut pada tahun 1794, mereka meminta bantuan Inggris untuk membantu menyerang. Namun untuk menaklukan Corsica, Inggris kewalahan merebut benteng menara di Martello Point yang menjaga pintu masuk teluk Fiorenzo. Benteng itu cukup ampuh dalam pertahanan, sehingga sekembalinya dari perang, Inggris mendirikan bangunan yang sama di negaranya. Kemudian bangunan ini tidak saja ditiru oleh Inggris melainkan juga Belanda. Tak heran jika Belanda mendirikan pula menara Martello di negeri jajahan seperti Indonesia sebagai bagian dari sistim pertahanannya. Dan salah satunya didirikan di Pulau Bidadari yang bekasnya masih bisa kita lihat sampai sekarang. Disamping itu ada benteng yang setipe dengan Martello yang terletak disebelah utara Pulau Bidadari. Bisa ditempuh dengan menggunakan perahu kurang lebih sepuluh menit.
Di sebelah utara benteng merupakan sisi pantai utara sebagai batas Pulau Bidadari bagian utara. Pantainya terlihat lebih bersih dan lebih bening dibanding dengan pantai sisi selatan. Hal ini dikarenakan pantai utara tidak berhadapan langsung teluk Jakarta yang sudah banyak tercemar. Beberapa tempat duduk kecil yang menghadap pantai tersedia disisi pantai. Duduk-duduk dikursi tersebut sambil melihat pemandangan laut biru, diterpa angin laut yang sepoi-sepoi merupakan hal yang sangat menyenangkan. Setelah puas mengelilingi pulau ini, senang, segar, capai dan rasa lapar bercampur jadi satu. Maka dari itu bersiaplah untuk menikmati hidangan makanan yang disediakan oleh restaurant dengan menukarkan voucher yang kita dapatkan ketika membeli tiket kapal. Menu yang tidak mewah, namun juga tidak bisa dikatakan sederhana, nasi dan lauk pauk lengkap serta hidangan penutup betul-betul menjadi pengobat rasa lapar yang ada.
Karena restoran yang langsung berhadapan dengan pantai, asyik sekali makan sambil menatap laut, mendengar ombak yang mendayu-dayu. Tak terasa waktu berlalu begitu cepat ketika berada di pulau ini, kapal penjemput sudah siap di dermaga, satu per satu penumpang naik dan kami kembali ke dermaga 17.
Pagi itu panas matahari belum begitu terik, namun kesibukan di Dermaga 17 Pantai Marina Ancol sudah terlihat. Antrean orang yang akan naik kapal cepat ke berbagai pulau di gugusan Pulau Seribu sudah mulai bersiap-siap naik ke perahu masing-masing. Pak Nur ( 41 ), Kapten kapal cepat yang akan menuju P.Bidadari juga terlihat berdiri diatas kapal untuk melihat kesiapan kapal yang akan dikemudikannya.
Jika ingin pergi ke berbagai gugusan Kepulauan Seribu gampang saja, datang saja ke Pantai Marina Ancol. Di situ anda tinggal beli tiket kapal, kemudian memilih tujuan, menunggu sebentar dan berangkat. Salah satu service yang disediakan adalah berlayar menuju Pulau Bidadari, salah satu gugusan Kepulauan Seribu yang terdekat dengan Jakarta. Rute Marina – P.Bidadari tersedia tiap hari, dimana keberangkatan kapal jam sembilan pagi dan kepulangannya jam tiga sore.
Kalau hari libur atau Sabtu & Minggu kapal tetap berangkat jam sembilan pagi, namun jam kepulangan menjadi dua kali, jam dua dan jam empat sore. Harga tiket juga berbeda, hari biasa adalah Rp 160,000 ,- per orang sedangkan hari libur adalah Rp 200,000 / orang. Selain tiket pulang dan pergi, harga tiket tersebut termasuk welcome drink dan makan siang di restoran P.Bidadari.
Setelah menunggu beberapa saat di Dermaga 17 Pantai Marina Ancol, petugas kapal mempersilahkan penumpang untuk masuk. Sesaat kemudian kapal yang kami tumpangi berputar, maju pelan-pelan dan mulai membelah lautan. Makin lama kecepatan kapal makin betambah, hingga para penumpang yang berada di dalamnya terasa diayun-ayun dan digoyang-goyang. Walaupun begitu para penumang tetap berasa aman di dalamnya, karena kapalnya lumayan besar dan tertutup, sehingga cipratan air tidak masuk ke dalam. Ruangan kapal juga relatif bersih dan nyaman. Susunan tempat duduknya juga asyik, kursi busa dengan posisi tiga kursi samping kanan dan tiga kursi samping kiri yang dipisahkan oleh jalan di tengahnya. Tak begitu lama, kurang lebih hanya dua puluh menit di atas kapal, rimbunan dedaunan Pulau Bidadari sudah kelihatan, dan merapalah kapal yang kami tumpangi di dermaga kayu pulau tersebut.
Patung Sang Tanduk Tujuh Belas yang sedang mengangkat kakinya menyambut kedatangan para pengunjung. Bahkan sambutan tersebut disertai dengan bunyi puisi yang tertulis di bawah patung yang berbunyi sebagai berikut,”Singa Beraung dihutan-hutan, Hiu berteriak, Aku raja dilautan, Dan rajawali, Bebas terbang tinggi di awan – Disini Sang Tanduk Tujuh Belas, Akrab berbisik, Kepada para wisatawan, Saya hanyalah penjaga kepulauan – Cinta persahabatan, Cinta perdamaian, Cinta ketenangan, Dan cinta keindahan”. Merenung sejenak setelah membaca pusisi tersebut, welcome drink pun siap sedia diatas meja yang terletak di samping meja resepsionis. Di pintu masuk terdapat beberapa petugas yang sudah siap sedia melayani segala keperluan para pengunjung. Pemandu wisata juga tersedia bagi para pengunjung yang ingin penjelasan detail tentang P.Bidadari.
Karena ingin lebih bebas menikmati asrinya pulau, kami pun memutuskan untuk mengelilingi Pulau Bidadari tanpa menggunakan pemandu. Toh sudah tersedia juga brosur yang lumayan lengkap yang berisi tentang pulau ini. Mengitari pulau berlawanan arah dengan jarum jam, kami melintasi bungalow-bungalow yang tidak begitu besar, namun terlihat teduh dan asri. Karena hampir di setiap sudut daratan pulau ini tumbuh pohon Keben dan beberapa pohon lain yang terlihat sangat subur. Terus berjalan ke dalam kita akan menemukan Benteng yng sudah rusak, namun masih terlihat sisa-sisa keperkasaannya. Bangunan yang berfungsi sebagai menara pengawas dan benteng di Pulau Bidadari ini berbentuk bundar dengan garis tengah 23 meter da tebal dinding 2,50 meter. Pada dinding ini terdapat deretan jendela-jendela besar dan kecil. Pada bagian dalam bangunan ini terdapat tujuh ruangan lantai dasar yang dipisah-pisahkan dengan skat tembok bata.
Salah satu ruangan yag tertutup berfungsi sebagai tempat penyimpanan amunisi. Pada bagian tengahnya terdapat sebuah dinding lingkaran lagi yang berfungsi sebagai tempat penyimpanan air bersih untuk keperluan minum dan memasak bagi para tentara yang sedang berjaga. Sebelum dilakukan penggalian arkeologi, bangunan menara pengawas di Pulau Bidadari ini tidak terlihat wujudnya sebab seluruh permukaan bangunan tertimbun oleh puing-puing dan ditumbuhi oleh pohon-pohon besar serta ilalang. Namu setelah dilakukan penelitian dan penggalian oleh Dinas Museum dan Sejarah DKI Jakarta, akhirnya dapat diperlihatkan wujud dari sisa-sisa bangunan menara tersebut. Menara pengawas ini bertingkat dua, hal ini dibuktikan dengan adanya lubang-lubang penyangga balok lantai. Ruangan-ruangan pada lantai dua ada tujuh buah. Kemungkinan ruangan dilantai dua ini berfungsi sebagai ruangan tidur sekaligus tempat pengintaian.
Bentuk bangunan menara pengawas ini di Eropa lebih dikenal dengan sebutan Menara Martello. Yang pertama kali diperkenalkan oleh Perancis, atau tepatnya d pulau Corsica pada abad 18. Ketika terjadi pemberontakan di pulau tersebut pada tahun 1794, mereka meminta bantuan Inggris untuk membantu menyerang. Namun untuk menaklukan Corsica, Inggris kewalahan merebut benteng menara di Martello Point yang menjaga pintu masuk teluk Fiorenzo. Benteng itu cukup ampuh dalam pertahanan, sehingga sekembalinya dari perang, Inggris mendirikan bangunan yang sama di negaranya. Kemudian bangunan ini tidak saja ditiru oleh Inggris melainkan juga Belanda. Tak heran jika Belanda mendirikan pula menara Martello di negeri jajahan seperti Indonesia sebagai bagian dari sistim pertahanannya. Dan salah satunya didirikan di Pulau Bidadari yang bekasnya masih bisa kita lihat sampai sekarang. Disamping itu ada benteng yang setipe dengan Martello yang terletak disebelah utara Pulau Bidadari. Bisa ditempuh dengan menggunakan perahu kurang lebih sepuluh menit.
Di sebelah utara benteng merupakan sisi pantai utara sebagai batas Pulau Bidadari bagian utara. Pantainya terlihat lebih bersih dan lebih bening dibanding dengan pantai sisi selatan. Hal ini dikarenakan pantai utara tidak berhadapan langsung teluk Jakarta yang sudah banyak tercemar. Beberapa tempat duduk kecil yang menghadap pantai tersedia disisi pantai. Duduk-duduk dikursi tersebut sambil melihat pemandangan laut biru, diterpa angin laut yang sepoi-sepoi merupakan hal yang sangat menyenangkan. Setelah puas mengelilingi pulau ini, senang, segar, capai dan rasa lapar bercampur jadi satu. Maka dari itu bersiaplah untuk menikmati hidangan makanan yang disediakan oleh restaurant dengan menukarkan voucher yang kita dapatkan ketika membeli tiket kapal. Menu yang tidak mewah, namun juga tidak bisa dikatakan sederhana, nasi dan lauk pauk lengkap serta hidangan penutup betul-betul menjadi pengobat rasa lapar yang ada.
Karena restoran yang langsung berhadapan dengan pantai, asyik sekali makan sambil menatap laut, mendengar ombak yang mendayu-dayu. Tak terasa waktu berlalu begitu cepat ketika berada di pulau ini, kapal penjemput sudah siap di dermaga, satu per satu penumpang naik dan kami kembali ke dermaga 17.
Kamis, 04 September 2008
സെമേര് mountain
Mt. Semeru
Semeru also Gunung Semeru - is the tallest mountain on the island of Java and one of its most active volcanoes. Known also as Mahameru (Great Mountain), it is very steep and rises abruptly above the coastal plains of eastern Java. Semeru lies at the south end of the Tengger Volcanic Complex.
Semeru's eruptive history is extensive. Since 1818, at least 55 eruptions have been recorded (10 of which resulted in fatalities) consisting of both lava flows and pyroclastic flows. Moderate explosive eruptions (VEI 2-3) have also been recorded with some regularity.
Semeru has been in a state of near-constant eruption from 1967 to the present. At times, small eruptions happen every 10 minutes or so.
Semeru is regularly climbed by tourists, usually starting from the village of Rano Pani to the north, but though non-technical it can be dangerous. Soe Hok Gie, an Indonesian political activist of the 1960s died in 1969 from inhaling poisonous gas while hiking on Mount Semeru.
Semeru is named from Sumeru, the central world-mountain in Buddhist cosmology. In legend it was transplanted from India; the tale is recorded in the 16th-century East Javanese work Tantu Panggelaran. It was originally placed in the western part of the island, but that caused the island to tip, so it was moved eastward. On that journey, parts kept coming off the lower rim, forming the mountains Lawu, Wilis, Kelud, Kawi, Arjuno and Welirang. The damage thus caused to the foot of the mountain caused it to shake, and the top came off and created Penanggungan as well.
Semeru also Gunung Semeru - is the tallest mountain on the island of Java and one of its most active volcanoes. Known also as Mahameru (Great Mountain), it is very steep and rises abruptly above the coastal plains of eastern Java. Semeru lies at the south end of the Tengger Volcanic Complex.
Semeru's eruptive history is extensive. Since 1818, at least 55 eruptions have been recorded (10 of which resulted in fatalities) consisting of both lava flows and pyroclastic flows. Moderate explosive eruptions (VEI 2-3) have also been recorded with some regularity.
Semeru has been in a state of near-constant eruption from 1967 to the present. At times, small eruptions happen every 10 minutes or so.
Semeru is regularly climbed by tourists, usually starting from the village of Rano Pani to the north, but though non-technical it can be dangerous. Soe Hok Gie, an Indonesian political activist of the 1960s died in 1969 from inhaling poisonous gas while hiking on Mount Semeru.
Semeru is named from Sumeru, the central world-mountain in Buddhist cosmology. In legend it was transplanted from India; the tale is recorded in the 16th-century East Javanese work Tantu Panggelaran. It was originally placed in the western part of the island, but that caused the island to tip, so it was moved eastward. On that journey, parts kept coming off the lower rim, forming the mountains Lawu, Wilis, Kelud, Kawi, Arjuno and Welirang. The damage thus caused to the foot of the mountain caused it to shake, and the top came off and created Penanggungan as well.
Langganan:
Komentar (Atom)