Jumat, 16 Mei 2008

Anemia pada Anak

KESEHATAN
Jangan Anggap Enteng
Anemia pada Anak
Adanya siklus menstruasi setiap bulan merupakan salah satu faktor penyebab perempuan mudah terkena anemia atau akrab dikenal dengan istilah kurang darah. Namun, anemia kini tak hanya diderita kaum perempuan, tetapi mulai banyak diderita anak-anak. Faktor penyebabnya adalah konsumsi makanan yang defisiensi zat besi dan terkena infeksi penyakit seperti cacing dan malaria.
Melihat dampaknya pada kecerdasan anak dan daya tahan tubuh, anemia bagi anak jangan dianggap enteng. Untuk itu, perlu pendeteksian lebih dini agar apa yang terjadi dapat diatasi dengan lebih baik.
"Angka kematian akibat ibu hamil anemia memang cukup tinggi. Bila penyakit tersebut menjangkiti bayi yang dikandungnya, hal itu akan menghambat perkembangan fisik dan intelektual anak," kata dr Pauline Endang SpGK, Kepala Instalasi Gizi Rumah Sakit Umum Fatmawati dalam seminar tentang anemia yang diselenggarakan PT Merck sekaligus peluncuran suplemen zat besi untuk anak "Sangobion Drops", di Jakarta, belum lama ini.
Menurut dr Pauline, bayi lebih berisiko terkena anemia di masa pertumbuhannya yang berjalan cepat, akibat tidak memperoleh masukan zat besi dalam jumlah yang cukup. Begitu juga dengan bayi yang berat badannya terlalu rendah atau bulan lahirnya kurang dari normal, mereka memiliki risiko menderita anemia, karena persediaan zat besi dalam tubuhnya hanya sampai umur dua bulan saja.
"Demikian halnya anak umur 1-3 tahun mudah sekali terserang anemia, karena anak pada usia tersebut sulit sekali mengonsumsi makanan yang mengandung banyak zat besi," tuturnya.
Dijelaskan, anemia adalah kondisi dimana kadar hemoglobin atau hemat okrit dalam darah kurang dari batas normal, yang sesuai usia (bayi dan anak) atau jenis kelamin (dewasa). Rendahnya kadar hemoglobin itu mempengaruhi kemampuan darah menghantarkan oksigen yang dibutuhkan untuk metabolisme tubuh yang optimal.
"Anemia defisiensi besi ini dapat diketahui dari pemeriksaan hemoglobin (HB). Jika HB kurang, dapat dikatakan anak tersebut menderita anemia. Karena fungsi HB adalah untuk membawa oksigen ke seluruh jaringan tubuh," ucapnya.
Karena zat besi berfungsi sebagai pembentuk hemoglobin, maka jenis anemia defisiensi besi ini merupakan jenis kasus anemia yang paling banyak ditemui. Data WHO menyebutkan sekitar 2 miliar penduduk dunia terkena penyakit tersebut.
Dr Pauline menambahkan, masalah anemia patut mendapat perhatian. Karena selama kurun waktu 2001-2003 tercatat ada sekitar 2 juta ibu hamil yang menderita anemia gizi, 350.000 bayi lahir dengan berat badan rendah, 5 juta balita menderita gizi kurang, serta 8,1 juta anak menderita anemia.
Pada anak berusia dua tahun, anemia bisa menyebabkan gangguan koordinasi dan keseimbangan. Sehingga anak kelihatan menarik diri dan selalu ragu. Hal tersebut bisa menyebabkan terhambatnya kemampuan anak dalam berinteraksi dengan temannya.
"Gejala yang ditimbulkan adalah anak terlihat lemah, lelah, letih, lesu, menurunnya daya pikir, mata berkunang-kunang, berkurangnya daya tahan tubuh dan keringat dingin," kata Pauline.
Bayi yang mengalami anemia umumnya lebih rewel, susah makan, kulit pucat, suhu tubuh kadang-kadang dingin dan daya tahan tubuh menurun yang ditandai dengan gampang jatuh sakit dibandingkan dengan anak sebayanya.
Anemia bisa menyebabkan kematian, tergantung pada penyebab dan derajatnya. Karena penderita anemia defisiensi besi mengalami penurunan daya tahan tubuh secara keseluruhan. Bila hal itu dibiarkan dalam waktu lama, bukan mustahil menyebabkan terjadinya gangguan mental pada anak.
"Anemia defisiensi juga bisa menimbulkan masalah pada detak jantung, yang pada akhirnya dapat menimbulkan kematian," ucap Pauline.
Di Indonesia, menurut konsultan tumbuh kembang anak Rumah Sakit Hasan Sadikin, Bandung dr Kusnadi Rusmil SpA(K) MM, kebanyakan keluarga tidak menyadari anak-anaknya mengidap anemia. Data penelitian Batubara 2004 yang menunjukkan rata-rata anak Indonesia baik laki-laki maupun perempuan mempunyai berat dan tinggi di bawah nilai rata-rata standar.
Berdasarkan survei yang dilakukan oleh Yayasan Kusuma Buana dari 3000 anak usia sekolah yang diperiksa, hampir separuhnya menderita anemia. "Hal itu berarti satu dari dua anak usia sekolah menderita anemia," katanya.
Dampaknya bisa terlihat saat anak memasuki usia pra sekolah dan usia sekolah. Anak akan mengalami gangguan konsentrasi, daya ingat rendah, kemampuan memecahkan masalah rendah, gangguan perilaku, dan tingkat IQ yang lebih rendah. Akibatnya adalah penurunan prestasi belajar dan kemampuan fisik anak.
"Anak usia sekolah mencapai 30 persen dari 217 juta penduduk Indonesia. Mereka diharapkan menjadi generasi penerus yang berkualitas. Tapi bagaimana jadinya jika anak sekolah tersebut banyak menderita anemia?" ujarnya.
Pemberian gizi yang cukup merupakan faktor utama dalam penanganan anak anemia. Pemberian preparat besi juga bisa dilakukan, namun sebaiknya dimulai sejak anak berusia enam bulan sampai tiga tahun. "Anak usia sekolah yang kecerdasannya rendah karena kurang zat besi bila diberikan tambahan zat besi tidak banyak manfaatnya," katanya.
Untuk menjamin perkembangan otak dan kecerdasan anak yang optimal, dr Kusnadi Rusmil menyarankan, agar bayi dan balita mulai umur enam bulan rutin diperiksa kadar zat besinya. "Bila kurang berikan tambahan zat besi dan perbaikan makanan. ASI tetap diteruskan sampai usia dua tahun," paparnya.
Untuk mencegah kekurangan zat besi pada bayi, sebaiknya ibu hamil dan calon ibu (remaja puteri) juga memeriksa kadar zat besinya. "Untuk ibu hamil sebaiknya diberikan tablet zat besi agar kebutuhan zat besi untuk janin tercukupi, terutama perkembangan otak dan darah," paparnya.
Faktor lain yang tak kalah penting adalah perilaku hidup bersih dan sehat, seperti membiasakan cuci tangan dengan sabun, imunisasi dasar balita, memantau berat badan bayi secara teratur serta membiasakan anak mengonsumsi sayuran hijau dan mengandung zat besi.
Khusus untuk anak sekolah, disarankan agar penganggulangan anemia dilakukan melalui program Usaha Kesehatan Sekolah yang melibatkan murid, guru, orangtua hingga penjual makanan untuk mensosialisasikan tentang cara hidup sehat agar terhindar dari anemia.
Zat besi paling banyak terkandung dalam kelompok lauk-pauk, seperti hati, daging sapi, telur, dan ikan sebagai sumber protein hewani yang mudah diserap. Dari kelompok zat tepung, dapat berupa gandum, jagung, kentang, ubi jalar, talas, beras merah atau putih, dan ketan hitam.
Dari kelompok sayuran terdiri dari kacang-kacangan, kismis, tahu, dan kacang mete. Dan dari kelompok buah, terdapat pada kurma, apel, jambu, pepaya, belimbing, alpukat, nangka, salak, dan srikaya. (Tri Wahyuni)

Menikmati Manfaat Apel . .

Di antara sekian macam buah, bisa jadi apel menjadi salah satu buah yang banyak digemari.
Rasanya yang menyegarkan dan mudah diperoleh membuat buah ini akrab di lidah siapapun, baik tua maupun muda.
Namun, siapa yang menyangka di balik semua itu, buah yang menjadi sumber inspirasi bagi Isaac Newton saat menciptakan hukum gravitasi ini menyimpan beragam manfaat bagi manusia.
Kandungan kalium, natrium, kalori (dalam ukuran rendah) dan kandungan vitamin C yang tinggi menjadi alasan yang cukup kuat sehingga mengonsumsi buah ini sangat dianjurkan. Adapun manfaat apel lainnya adalah :
1. Apel dinilai mampu menurunkan risiko kanker paru-paru dan kanker usus berkat zat flavonoid yang terkandung didalam nya. Flavanoid dinilai dapat melindungi tubuh dari kerusakan akibat radikal bebas atau molekul tidak stabil yang timbul karena proses kimia normal tubuh dan pengaruh lingkungan lain (misalnya polusi udara), zat inilah yang kemudian melindungi kerusakan sel paru-paru karena polusi tadi.
2. Bagi yang tengah bermasalah dengan kolesterol, apel bisa menjadi salah satu solusi. Zat antioksidan yang tinggi di dalamnya dinilai efektif melawan �kolesterol jahat� atau LDL (low density lipoprotein) dalam tubuh, dan pada waktu yang sama juga membantu meningkatkan �kolesterol baik� atau HDL (high density lipoprotein).
3. Antioksidan adalah zat pencegah radikal bebas yang menimbulkan kerusakan pada sel-sel tubuh.
4. Kandungan serat yang tinggi dalam apel menjadikan buah ini sangat baik untuk pencernaan dan dianjurkan untuk masuk dalam menu mereka yang berdiet. Kandungan serat yang tinggi tentu juga dapat menghindari muncul rasa lapar lebih cepat, faktor inilah yang membuat apel dapat membantu Anda saat hendak menurunkan berat badan.
5. Penelitian di Cornell University menemukan bahwa apel yang masih segar mampu mencegah munculnya penyakit neurodegeneratif seperti alzheimer dan parkinson. Diduga hal ini adalah berkat zat antioksidan di dalam apel.
Dengan menilik beberapa manfaat apel tadi maka tak berlebihan bukan jika muncul ungkapan �an apple a day keeps the doctor away� ? (ASP)
Pemanasan Global Berpotensi
Picu Prevalensi Batu Ginjal
Seperti dilansir situs resmi AUA, www.auanet.org, baru-baru ini, kenaikan suhu global meningkatkan jumlah kasus batu ginjal. Dugaan sementara, kenaikan kasus itu diakibatkan oleh dehidrasi. Karena kasus batu ginjal mulai bermuncul di kawasan beriklim panas.
AUA mengambil kawasan Amerika sebagai contoh yang terimbas kenaikan suhu global. Para ahli dari AUA mendapati bahwa kawasan selatan negeri Paman Sam itu memiliki prevalensi batu ginjal yang lebih besar daripada kawasan lain.
Peneliti memperkirakan jumlah penduduk Amerika yang berpotensi terkena sakit batu ginjal akan melonjak dalam beberapa dekade ke depan.
Jika pada 2000, populasi penduduk beresiko tinggi terkena sakit batu ginjal adalah 40 persen, maka pada 2050 angka itu akan meningkat jadi 50 persen. Itu artinya, jumlah orang yang terkena batu ginjal bertambah 1-2juta orang.
Para peneliti juga melihat trend kenaikan angka pengidap batu ginjal tidak hanya akan berkonsentrasi di kawasan Amerika bagian selatan, tapi juga menular ke bagian utara dan menyebar ke seluruh negeri.
Selain sebaran penderita, AUA juga memprediksi biaya pengobatan batu ginjal di Amerika akan melonjak hingga 1 miliar dolar per tahun pada 2050, atau 10-20 persen lebih tinggi daripada keadaan saat ini.
Asosiasi Urologi Amerika Serikat berdiri pada 1902, dan memiliki kantor pusat di Baltimore, Maryland. Asosiasi yang mengakomodasi anggota dari kalangan profesional urolog ini beranggotakan lebih dari 15.000 orang dan lembaga di seluruh dunia.
Sementara itu di Indonesia, selain kasus gagal ginjal, batu ginjal juga semakin sering dijumpai. Penyakit ini juga sering disebut batu karang dan kencing batu. Menurut para ahli, penyebab batu ginjal adalah akibat pola mengonsumsi makanan yang salah.
Namun, bila menengok sejarahnya, penderita batu ginjal telah ditemukan sejak ribuan tahun lalu. Hal itu terbukti dari hasil penemuan para ahli, jejak batu ginjal ditemukan pada mumi yang dibalsam dan berusia sekitar 7.000 tahun di Mesir.
Salah satu penyebab batu ginjal adalah kelebihan kalsium. Untuk itu setiap orang dianjurkan untuk mencegah kelebihan asupan kalsium. Makanan yang mengandung kalsium tinggi adalah ikan salmon, sarden, keju, susu, es krim, dan sayur kol. Makanan jenis ini mengandung lebih dari 100 mg kalsium per porsi. Sedangkan bayam, ikan kering, dan cokelat tergolong makanan yang mengandung kalsium sedang.
Selain mengurangi asupan kalsium, penderita ginjal juga dianjurkan mengurangi konsumsi garam, karena setiap peningkatan 100 mg garam dalam makanan dapat meningkatkan 25-30 mg kalsium dalam urin.
Sementara itu, ahli gizi dari Institut Pertanian Bogor (IPB) Prof Dr Ali Khomsan berpendapat konsumsi secara berlebihan sayur dan buah juga membebani fungsi kerja ginjal. Walaupun vitamin diperlukan tubuh, tapi jika ginjal tidak mampu mencerna dapat menyebabkan seseorang terkena gagal ginjal.
Selain vitamin, makanan yang mengandung protein dan mineral juga tidak boleh dikonsumsi secara berlebihan. Misalnya, daging, ikan, kacang-kacangan, garam, telur, dan susu. "Konsumsi teh berlebihan juga tidak baik. Karena selain mengandung kafein, di dalam teh ada unsur non-gizi yang mengganggu penyerapan mineral."
Namun, Ali menambahkan, bukan berarti penderita batu ginjal tidak boleh mengonsumsi makanan mengandung vitamin, protein, dan mineral. Asalkan, pola konsumsi-- terutama golongan usia lanjut-- oleh penderita batu ginjal dibatasi agar ginjal berfungsi baik. Sebab, penderita batu ginjal juga memerlukan kandungan gizi dalam makanan untuk kesehatan tubuhnya.
Dijelaskan Ali, orang yang memiliki ginjal normal tentu dapat mencerna vitamin dosis tinggi yang memang diperlukan tubuh. Dan, orang tersebut dapat mengonsumsi vitamin 10 kali lipat lebih banyak, dibandingkan manusia yang ginjalnya tidak baik.
Karena itu terhadap orang yang memiliki ginjal kurang baik, Ali menganjurkan agar sejak muda mengonsumsi vitamin, mineral, dan protein secara moderat (tidak lebih dan tidak kurang).
"Untuk mengetahui apakah seseorang memiliki ginjal baik atau bagus, bisa dilihat dari riwayat kesehatan ayah atau ibunya. Kalau orangtua atau saudara satu darah memiliki masalah gangguan ginjal, maka ia akan berpotensi terkena penyakit tersebut," katanya.
Ali menyebutkan, di negara-negara maju saat ini dikenal istilah konsumsi lima porsi sayur dan buah setiap hari. Yaitu, apabila dalam sehari seseorang mengonsumsi dua kali sayuran harus diimbangi dengan tiga buah. "Itu berlaku bukan hanya untuk penderita ginjal, tapi juga untuk mengatasi penyakit kronis."
Namun, yang sekarang terjadi di Indonesia, keluarga yang secara ekonomi baik cenderung mengonsumsi zat-zat tadi secara berlebihan, baik sadar ataupun tidak.
"Misalnya dengan makan di restoran fast food. Mungkin sekarang tidak dirasakan, tapi kalau hal itu menjadi kebiasaan akan sulit dihilangkan," ujarnya. Ali tidak setuju dengan pendapat yang menyebutkan diet dapat menangkal batu ginjal.
Menurutnya, diet bukanlah untuk menangkal batu ginjal, tapi mengatasi ginjal agar tidak terbebani. "Diet memang memengaruhi pola makanan yang buruk menjadi lebih baik. Tapi kalau diet bertujuan untuk mengatasi kegemukan, itu lain lagi arahnya. Karena diet hanya mengurangi kalori tubuh."
Terhadap para penderita batu ginjal, Ali menyarankan agar mengonsumsi air putih untuk memperlancar pencernaan dan mengurangi beban ginjal. Namun terhadap penderita gagal ginjal, menurutnya, memang harus dilakukan operasi sebagai upaya penyembuhan.
Cara yang cukup efektif untuk mengatasi batu ginjal tanpa harus operasi adalah rajin mengonsumsi jeruk nipis. Kandungan sitrat jeruk nipis lokal (citrus aurantifolia swingle) bulat memiliki kandungan sitrat 10 kali lebih besar dibanding jeruk keprok atau enam kali jeruk manis.
Biasanya sitrat di dalam air kemih pada penderita batu ginjal paling rendah pada malam dan dini hari, maka pemberian jeruk nipis dianjurkan sesaat sesudah makan malam sehingga hasilnya lebih maksimal.
Cara pemberian jeruk nipis lokal ini bisa berupa dua buah jeruk nipis dengan diameter di atas 4,5 cm yang diencerkan dalam dua gelas air. Pemberian perasan jeruk nipis sesudah makan malam dilaporkan tidak menimbulkan keluhan lambung dan memberikan rasa kepatuhan. (Tri Wahyuni/dari berbagai sumber)

Mengenal Bawang Putih bagi Kesehatan

Bawang putih atau Allium sativum sudah menjadi bahan dapur �wajib� saat memasak karena aroma dan rasa yang dihasilkannya menambah se-dapat setiap resep masakan.
Terlebih lagi dengan adanya berbagai penelitian yang menemukan khasiat bawang putih bagi kesehatan, menambah panjang deretan penggemar setianya.
Bila menengok ke beberapa abad lampau, manfaat bawang putih bagi masakan dan kesehatan ini ternyata sudah digunakan sejak zaman Yunani dan Romawi kuno, untuk dikonsumsi dan pengobatan. Sedangkan di dalam resep makanan Libanon, bawang putih sejak dulu digunakan sebagai resep untuk diet.
Seiring dengan berjalannya waktu, semakin banyak ditemukan khasiat bawang putih bagi kesehatan yang kemudian diuji melalui serangkaian penelitian -- baik dalam maupun luar negeri. Manfaat bawang putih antara lain sebagai pembantu penurun kadar kolesterol. Hal ini disebabkan karena adanya zat ajoene yang terkandung di dalamnya, yaitu suatu senyawa yang bersifat antikolesterol dan membantu mencegah penggumpalan darah.
Ada pula penelitian yang menemukan bahwa mengonsumsi bawang putih secara teratur -- sekitar 2-3 siung setiap hari-- dapat membantu mencegah serangan jantung. Pasalnya bawang putih ini bermanfaat membantu mengecilkan sumbatan pada arteri jantung sehingga meminimalkan terjadinya serangan.
Bawang putih juga dapat membantu menghindari kanker yang dibuktikan melalui penelitian yang dilakukan oleh University of Minnesota. Penelitian tersebut menunjukkan bahwa risiko terkena kanker di usia tua berkurang sebanyak 50 persen bila mengonsumsi bawang putih secara rutin.
Sementara itu, di negara Asia seperti Jepang atau China, bawang putih bisa dikonsumsi tanpa harus ditumbuk halus atau dirajang seperti kebanyakan bumbu di Indonesia. Di mana satu siung bawah putih tinggal dibakar di atas api atau langsung dikudap tanpa racikan lain, untuk menambah rasa masakan. Kalau sudah begini, jangan tanya bau yang ditimbulkan sesudahnya. Namun selain sebagai penyedap masakan, bawan dapat mengurangi dampak buruk dari lemak. Itu sebabnya bawang putih tetap menjadi pilihan utama setiap makan dan memasak.
Konsumsi bawang putih ini tentu saja harus diimbangi dengan gaya hidup yang sehat seperti mengurangi makanan yang mengandung lemak atau kolesterol tinggi, banyak olahraga, beristirahat serta mengonsumsi makanan yang kaya akan nutrisi. (ADT)

ಪೆನಂಗಣನ್ ಅನಕ್ autisme

Komunikasi Efektif Anak Autis
Ala "Indocare"
Kunci keberhasilan dari proses penyembuhan anak autis adalah terapi yang teratur dan berkesinambungan. Pemberian terapi itu pun tidak berhenti hanya sampai di pusat terapi, tetapi terus dilanjutkan di rumah. Penanganan yang tepat akan mempercepat proses penyembuhan.
Belajar dari pengalaman itu, Yayasan Inti Nusa Dharmabhakti Optima membuka pusat pelatihan dan pengembangan sumber daya bagi anak dengan gangguan autis yang diberi nama "Indocare" (Indonesia Centre for Autism Resource and Expertise). Indocare yang berlokasi di kompleks pertokoan Pantai Indah Kapuk Jakarta Utara itu merupakan afiliasi dari jaringan pusat pelatihan anak autisme di dunia.
"Karena itu metode pelatihan yang kami gunakan merujuk pada pengalaman negara-negara maju dalam penanganan anak-anak autis. Karena itu, pada tahap awal pelatihan ini akan dilakukan dalam bahasa Inggris," ujar Ketua Yayasan Inti Nusa Dharmabhakti Optima, Juny Gunawan dalam penjelasannya kepada wartawan, di Jakarta, pekan lalu.
Namun, ditambahkan Juny Gunawan, penggunaan bahasa Inggris dalam pelatihan itu tidaklah bersifat permanen. Pihaknya akan membuka pelatihan dalam bahasa Indonesia pada sesi pelatihan berikutnya.
"Tahap awal ini merupakan pembentukan tim inti untuk penyelenggaraan pelatihan berikutnya. Setelah itu, kami akan menggunakan bahasa Indonesia untuk orang-orang yang ingin jadi terapi tetapi tidak bisa berbahasa Inggris," ujarnya.
Kapabilitas tenaga pengajar Indocare tak diragukan lagi. Itu terlihat dari nama Dr Lucy Pou, pakar autis dari Singapura yang menjabat sebagai Direktur Profesional Services. Doktor lulusan University of London sudah lebih dari 10 tahun mendalami penanganan anak-anak dengan gangguan autisma.
Juni Gunawan mengatakan, Indocare selain menjadi pusat pelatihan bagi terapi untuk anak autis juga membuka layanan profesional dan sumber daya khusus bagi anak yang mengalami autisma berusia 2,5 tahun sampai dengan 12 tahun. Indocare memberi dukungan pelayanan terutama pada bidang terapi oleh profesional seperti terapi bicara dan bahasa, terapi occupational dan terapi psiko-edukasi termasuk juga sesi konsultasi untuk anak-anak dengan autisme.
"Sasaran dari layanan yang kami tawarkan adalah bekerjasama dengan anak dan keluarganya agar anak tersebut dapat keluar dari dunianya sendiri dan secara aktif dapat berpartisipasi di luar dunianya," katanya.
Lucy Pou menjelaskan, komunikasi memainkan peranan yang sangat penting dalam penanganan anak dengan gangguan autisme. Tujuan komunikasi adalah untuk mengungkapkan keinginan, mengekspresikan perasaan dan bertukar informasi.
"Banyak anak autis yang mampu bicara, namun sebenarnya mereka belum memiliki pemahaman yang baik tentang apa yang mereka ucapkan dan diucapkan orang lain. Tidak jarang ada anak autis yang bisa lancar mendeskripsikan sesuatu, menghafal lagu, meniru jingle iklan, membaca dengan baik, tetapi tetap gagal bila diajak tanya jawab mengenai kejadian sehari-hari," katanya.
Untuk berinteraksi dengan anak autis, Lucy menambahkan, orangtua dan pendidik bisa menggunakan ekspresi wajah, gerak isyarat, mengubah nada suara, menunjuk gambar, menunjuk tulisan, menggunakan papan komunikasi, dan menggunakan simbol-simbol.
"Cara-cara tersebut tidak hanya dapat digunakan secara tersendiri, tetapi juga dapat digabungkan sehingga membentuk pesan yang lebih "kuat"," katanya.
Pada umumnya anak-anak autis memiliki kemampuan menonjol di bidang visual. Mereka lebih mudah untuk mengingat dan belajar, bila diperlihatkan gambar atau tulisan dari benda-benda, kejadian, tingkah laku maupun konsep-konsep abstrak. Dengan melihat gambar dan tulisan, anak autis akan membentuk gambaran mental atau image yang jelas dan relatif permanen dalam benaknya.
Sebaliknya, bila materi yang dipelajari hanya diucapkan saja, mereka akan mudah melupakannya karena daya ingat mereka amat terbatas. "Oleh karena itu, dalam melakukan terapi gunakan sebanyak mungkin kartu-kartu bergambar dan alat bantu visual lain untuk membantu mereka mengingat. Anak-anak yang tergolong autis verbal pun tetap membutuhkan alat bantu visual," katanya.
Kemampuan melakukan komunikasi yang efektif (bukan sekadar bicara) bagi anak autis amatlah penting. Tanpa kemampuan tersebut anak akan mudah frustrasi dan menunjukkan gangguan perilaku karena kebutuhan-kebutuhannya tidak bisa dipenuhi lingkungannya. Ia juga merasa kesepian karena merasa berbeda dari lingkungannya, sehingga makin menarik diri serta makin asyik dengan dunianya sebagai kompensasi.
Sering kali "malasnya" anak berkomunikasi justru disebabkan oleh orang-orang di sekelilingnya yang gemar memberikan perlakuan istimewa. Apabila orang di rumah selalu memenuhi kebutuhan anak sebelum anak sempat meminta, otomatis anak tidak merasakan perlunya komunikasi.
"Karena itu, usahakan untuk selalu menunggu anak melakukan sesuatu (bisa menarik tangan, menunjuk, mengucap kata tertentu) sebelum kita memberikan apa yang diinginkannya. Makin sering anak dituntut berinteraksi, makin besar keinginannya berkomunikasi," tuturnya.
Lucy mencontohkan, bila anak senang dipeluk, ajarkan bagaimana anak bertingkah laku bila ingin dipeluk. Yaitu, dengan membuka kedua tangan lebar-lebar dan menghampiri atau sambil berkata peluk. "Jika ia berkata peluk, maka dia akan mendapat pelukan itu. Bila anak senang bermain bola, ajak dia untuk menunjuk gambar bola pada pintu lemari mainan," katanya.
Karena kesulitan anak-anak autis dalam memahami hal-hal yang sifatnya abstrak, maka perkenalkanlah dulu nama-nama obyek yang sifatnya konkret dan dapat disentuh. Pilih obyek-obyek yang dekat dengan kehidupan anak seperti makanan, mainan, pakaian dan obyek favorit anak. Sesering mungkin beri label benda-benda di sekelilingnya sehingga perbendaharaan kata anak bertambah. "Jangan terburu-buru mengajarkan kata sifat bila anak masih kesulitan memahami kata benda," ucapnya
Selain itu, orangtua juga bisa menimbulkan minat anak untuk lebih aktif berkomunikasi dengan mengikuti prinsip-prinsip berikut: Beri tanda bahwa orangtua mengharapkan respons anak dengan tidak bicara, melakukan kontak mata, alis terangkat, dan mulut sedikit terbuka.
Berilah situasi di mana anak harus berkomunikasi untuk memperoleh keinginannya. (Tri Wahyuni)